Margonda Raya KM 2 - Jalan Kedondong Kemirimuka - Beji Depok
+62 8571 64000 51

Menghindari Bullying? Inilah caranya!

Terwujudnya Insan yang berkarakter, berprestasi , berbudaya dan berwawasan lingkungan berlandaskan Iman dan Takwa

Menghindari Bullying? Inilah caranya!

Bullying adalah segala bentuk penindasan atau kekerasan, yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau kelompok yang lebih kuat atau berkuasa kepada orang lain. Tujuan dari bullying ini untuk menyakiti orang lain dan dilakukan secara terus menerus. Kata bullying berasal dari bahasa Inggris yang artinya intimidasi atau penindasan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata bullying sudah memiliki padanan kata yaitu perundungan yang artinya “perbuatan yang menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis, dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik berulang kali dan dari waktu ke waktu, seperti memanggil nama seseorang dengan julukan yang tidak disukai, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong”.

Peristiwa bullying dapat terjadi di mana saja, bisa terjadi di rumah, sekolah, tempat kerja, masyarakat, sampai dunia maya. Aktivitas bullying tidak memilih umur dan jenis kelamin. Sesungguhnya perilaku bullying bertentangan dengan UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 yang berbunyi, “Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

Lantas bagaimana solusi untuk mengatasi atau menghindari bullying?

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau menghindari bullying adalah dengan cara menyeluruh dan terpadu, dimulai dari anak, keluarga, sekolah dan masyarakat.

1) Pencegahan melalui anak.

Pencegahan melalui anak dapat dilakukan dengan cara melakukan pemberdayaan terhadap mereka. Jika seorang anak sudah diberdayakan, maka mereka akan memiliki kemampuan untuk mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya bullying terhadap mereka. Selain itu, anak juga akan mampu melawan ketika terjadi bullying pada dirinya atau berani memberikan bantuan ketika melihat bullying terjadi pada temannya dengan cara melaporkan kepada pihak lain, seperti sekolah, orang tua, atau tokoh masyarakat.

2) Pencegahan melalui keluarga.

Pencegahan melalui keluarga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan ketahanan keluarga dan memperkuat pola pengasuhan. Dalam keluarga harus ditanamkan nilai-nilai  penghayatan dan pengamalan keagamaan serta mengajarkan cinta kasih antar sesama. Dengan adanya lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang, akan menunjukan interaksi antar anggota keluarga yang harmonis, sehingga pada akhirnya akan membangun rasa percaya diri anak, memupuk keberanian dan mengembangkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan di luar rumah.

3)Pencegahan melalui sekolah 

Dalam upaya mencegah terjadinya bullying, sekolah dapat merancang dan membuat desain program pencegahan yang berisikan pesan kepada seluruh civitas akademika, baik peserta didik maupun guru, bahwa perilaku bully tidak diterima di sekolah dan merupakan salah satu jenis pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Sekolah dapat membuat slogan-slogan “anti bullying” dan menempelkannya di tempat-tempat yang strategis. 

Selain itu, pihak sekolah juga harus membangun komunikasi yang efektif antara guru, peserta didik, dan orang tua, dengan cara melakukan pertemuan yang bersifat berkala. Dalam pertemuan tersebut disampaikan hal-hal yang berkaitan dengan upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, aman, nyaman, dan ramah lingkungan.  

4) Pencegahan melalui masyarakat 

Pencegahan melalui masyarakat dapat dilakukan dengan cara membangun kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dimulai dari tingkat desa/kampung. Para tokoh masyarakat dapat berperan sebagai penggerak anggota masyarakat lainnya untuk memiliki kesadaran kolektif akan bahayanya bullying bagi perkembangan psikis anak ke depannya. Para tokoh masyarakat harus memiliki kepedulian dan pendampingan terhadap anak dari keluarga yang rawan terjadi peristiwa bullying, seperti keluarga broken home, keluarga sangat miskin, atau yang lainnya.

Jika upaya pencegahan bullying ini dilakukan secara menyeluruh oleh setiap komponen, mulai dari anak, keluarga, sekolah, dan masyarakat, maka bisa dijamin peristiwa bullying tidak akan pernah terjadi. Mungkinkah?.***