Margonda Raya KM 2 - Jalan Kedondong Kemirimuka - Beji Depok
+62 8571 64000 51

Field Trip to Dieng, Wonosobo

Terwujudnya Insan yang berkarakter, berprestasi , berbudaya dan berwawasan lingkungan berlandaskan Iman dan Takwa

Field Trip to Dieng, Wonosobo

Setelah selesai melaksanakan In House Training dan Workshop selama 3 hari, para tenaga pendidik dan kependidikan SMA Putra Bangsa Depok melakukan Field Trip ke Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung pada 8-10 Oktober 2021.

Selain bertujuan menambah keakraban antar sesama tenaga pendidik dan kependidikan, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan pendalaman Literasi kepada para peserta terkait sejarah Dataran Tinggi Dieng, dan budaya lokal masyarakat setempat, khususnya keberadaan masyarakat komunitas rambut gimbal.

Rombongan berangkat dari Depok pada hari Jum’at pukul 07.10 WIB dan tiba di penginapan (home stay) sekitar pukul 22.00 WIB. Keesokan harinya, setelah melaksanakan sholat subuh, para peserta field trip melakukan kunjungan ke beberapa objek. Objek pertama yang dikunjungi adalah Batu Angkruk. Di sana, para peserta dapat menikmati keindahan panorama Dataran Tinggi Dieng dengan latar belakang Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Pemandangan indah matahari terbit (sun rise) dan hamparan awan putih dapat dilihat dari atas jembatan kaca yang cukup eksotis.

Setelah sarapan pagi, para tenaga pendidik dan kependidikan yang mengikuti field trip melanjutkan kunjungan ke Dieng Plateau Theatre. Tempat ini memberikan jawaban dari rasa ingin tahu peserta field trip tentang seluk beluk Dieng dalam bentuk audio visual, sehingga memudahkan siapa saja memahami kondisi Dieng sebelum melakukan eksplorasi lebih jauh.

Dieng Plateau Theatre menyajikan sebuah film dengan judul “Dieng Negeri Khayangan” atau “God Adobe” yang bedurasi 23 menit. Film ini merupakan film dokumenter yang menjelaskan sejarah dan kehidupan di Dataran Tinggi Dieng tentang asal-muasal terjadinya Dataran Tinggi Dieng yang berawal dari letusan gunung raksasa, kejadian geologi, seni dan budaya, obyek wisata, kehidupan sosial masyarakat Dieng, letusan Kawah Sinila yang sangat terkenal di Indonesia, sejarah rambut gembel anak-anak Dieng, tradisi ruwat cukur rambut gembel, sampai fenomena “Bun Upas” (embun racun) yang sangat fenomenal.

Setelah menyaksikan penayangan film dokumenter di Dieng Plateau Theatre, kunjungan dilanjutkan ke “Batu Pandang Ratapan Angin” yang letaknya masih satu komplek dengan Dieng Plateau Theatre. Dari Batu Pandang Ratapan Angin yang memiliki ketinggian 2.100 mdpl, para peserta field trip dapat melihat keindahan panorama Telaga Warna Dieng dan Telaga Pengilon yang berada di bawahnya.

Sekitar pukul 11.00 WIB, para tenaga pendidik dan kependidikan SMA Putra Bangsa Depok melanjutkan kunjungan ke Telaga Warna Dieng dan Telaga Pengilon yang letaknya tidak jauh dari Batu Pandang Ratapan Angin. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit menggunakan bus kecil, rombonga tiba di objek yang dimaksud. Sengatan bau belerang (sulfur) menyambut kedatangan rombongan, diikuti pemandangan hamparan air danau berwarna hijau yang begitu indah. Sebenarnya, warna air Telaga Warna Dieng bisa berubah-ubah, terkadang hijau, kuning, bahkan berwarna-warni (pelangi). Fenomena ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar Matahari mengenainya, maka warna air telaga tampak berwarna-warni. Sementara, Telaga Pengilon luput dari kunjungan para peserta field trip karena adanya perbaikan atau renovasi di sekitar objek tersebut.

Sekitar pukul 12.00 WIB, rombongan kembali ke home stay untuk beristirahat, makan siang dan sholat. Pada sore harinya, selepas melaksanakan sholat Ashar, kunjungan dilanjutkan ke objek terakhir yaitu Bukit Sikunir. Bukit Sikunir dikenal dengan sebutan Golden Sunrise karena keindahan alam berupa sunrise atau matahari terbit akan tersaji jelas bagi wisatawan yang sampai ke puncaknya. Karena waktu kunjungan yang kurang tepat (sore hari), maka rombongan tidak sampai mendaki bukit yang memiliki ketinggian 2.300 mdpl sampai puncaknya. Sebagian besar dari rombongan menghabiskan waktu di kaki bukit Sikunir. Di kaki Bukit Sikunir terdapat sebuah telaga yang bernama Telaga Cebong. Dinamai demikian karena bentuknya yang seperti berudu (kecebong) jika dilihat dari atas. Di area Telaga Cebong juga dilengkapi dengan camp area yang biasa digunakan untuk mendirikan tenda. Di mana, tenda-tenda tersebut biasa digunakan oleh para pendaki bukit Sikunir yang bermalam dan hendak melihat sunrise di waktu fajar.

Menjelang Matahari terbenam, rombongan kembali ke home stay untuk istirahat, sholat, dan makan malam. Setelah makan malam, sekitar pukul 20.30 WIB, acara diisi dengan kegiatan sharing antar peserta field trip yang seluruhnya merupakan tenaga pendidik dan kependikan di SMA Putra Bangsa Depok. Kegiatan ini dipandu oleh Sri Lestari,S.Pd yang merupakan seksi acara pada kepanitiaan field trip, sekaligus merupakan Waka Bid. Humas dan I.T. Kegiatan diawali oleh sambutan Kepala Sekolah, Bapak Karyono,S.E, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian informasi seputar kesiswaan oleh Ropiyadi,S.Pd, dan terakhir penyampaian informasi seputar kurikulum, khususnya yang menyangkut kegiatan Tatap Muka Terbatas, oleh Nurhasan,S,Ag.,M.Pd.

Dalam kegiatan sharing ini, banyak informasi yang dapat digali dari para peserta yang nota bene-nya merupakan para tenaga pendidik. Salah satu ide yang muncul datangnya dari Brillian Edwin Priatama,S.Pd yang biasa dipanggil “Mr B”. Beliau merencanakan dalam kapasitasnya sebagai pembina OSIS, untuk membuat semacam “Media Center” dan pelatihan penulisan di Website yang sasarannya adalah para pengurus OSIS SMA Putra Bangsa. Kegiatan ini dirasa penting untuk menjembatani tersebar luasnya informasi tentang SMA Putra Bangsa di berbagai media yang dapat dijangkau.

Upaya untuk terus menjalin komunikasi yang efektif dan positif antara personal tenaga pendidik dan manajemen SMA Putra Bangsa juga menjadi sorotan dalam kegiatan ini. Hal ini menjadi penting, karena kedewasaan dalam menerima, mengelola, dan menyampaikan informasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam menciptakan sebuah iklim yang harmonis dalam sebuah organisasi.

Informasi lain yang dapat dicatat dalam kegiatan sharing ini datangnya dari Aditya Karunia T.M yang merupakan tenaga kependidikan yang membidani Administrasi Kurikulum, Tendik, Sarpras dan IT. Beliau menyampaikan beberapa hal sebagai pesiapan yang akan dilakukan dalam menyambut kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) yang direncanakan dimulai pada 11 Oktober 2021, di antaranya: Tool pembelajaran akan dipersiapkan dan dipasang pada Senin pagi serta posisi kelas dalam kondisi sudah dikunci setelah pembelajaran selesai, disarankan guru tetap menggunakan zoom/google meet dan papan tulis digital yang ada diaplikasi tersebut, Tata usaha berusaha menggunakan aplikasi berbasis digital, seperti pembuatan surat-surat, Sedang dikembangkan pembuatan aplikasi virtual account untuk memudahkan pembayaran SPP.

Sebagai staf Administrasi I.T, beliau juga meminta bantuan kepada bapak/ibu tenaga pendidik untuk memfollow Instagram sekolah agar menuju centang biru (terverifikasi), serta akan dilakukan optimalisasi aplikasi peduli lindungi, dengan prosedur mengajukan akun kepada pihak terkait, demi peningkatan digitalisasi dalam pelayanan Tata usaha.

Tepat pukul 23.00 WIB, kegiatan sharing ditutup dengan refleksi dari kepala sekolah. Dalam refleksinya, beliau menyampaikan beberapa hal penting, di antaranya : kerja harus berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) agar sesuai dengan program dan berjalan dengan baik; Efektifitas komunikasi terjadi jika memahami konteksnya dan terlepas dari aspek subjektifitas; Cara penyampaian informasi menjadi penting, agar tidak terjadi bias terhadap penerimaan informasi; Organisasi harus tegas jika diperlukan, dan dilandasi dengan positif thinking; Penghargaan tidak harus materi, namun bisa juga berbentuk immateri, seperti pujian maupun teguran; Bangun harmonisasi antara kita, orangtua, dan siswa; Semua kita punya job deskripsi, jika kita memahaminya maka akan meminimalisir masalah; Semua manusia pasti punya masalah, namun manusia yang terbaik adalah manusia yang mengambil pelajaran dari setiap masalah yang terjadi. Sebuah refleksi yang sarat makna dan patut menjadi renungan dari seorang leader sekaligus orang tua untuk dapat dilaksanakan oleh para tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan SMA Putra Bangsa Depok.

Akhirnya kegiatan malam itupun berakhir dan para peserta segera beristirahat tidur malam untuk bersiap-siap cek-out di keesokan paginya.

Tak terasa dua malam sudah berlalu di daerah Dieng yang memiliki suhu cukup dingin sekitar 10-14 derajat celcius. Setelah sarapan pagi, rombongan berangkat meninggalkan Dieng menuju kota Depok. Kurang lebih 14 jam perjalanan, akhirnya sekitar pukul 22.00 WIB, rombongan field trip tenaga pendidik dan kependidkan SMA Putra Bangsa Depok kembali tiba di sekolah. Para peserta field trip pun segera bergegas pulang ke rumah masing-masing, agar esok pagi dapat menyambut kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas edisi perdana dengan penuh semangat dan antusias.

Semoga dari rangkaian kegiatan field trip tenaga pendidik dan kependidikan SMA Putra Bangsa Depok dapat membawa atmosfer positif bagi peningkatan kinerja seluruh personil yang terlibat di dalamnya, yang pada akhirnya akan membawa pengaruh positif pula pada sasaran Standar Kompetensi Lulusan yang memiliki karakter dan kompetensi yang diharapkan. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.***