Margonda Raya KM 2 - Jalan Kedondong Kemirimuka - Beji Depok
+62 8571 64000 51

Pembinaan Karakter, Fokus Utama Tujuan Pendidikan Nasional

Terwujudnya Insan yang berkarakter, berprestasi , berbudaya dan berwawasan lingkungan berlandaskan Iman dan Takwa

Pembinaan Karakter, Fokus Utama Tujuan Pendidikan Nasional

Ropiyadi ALBA

Oleh :Ropiyadi ALBA 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia https://kbbi.web.id/pembinaan, “Pembinaan” adalah suatu usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik .

Dalam ruang lingkup pendidikan, sasaran program pembinaan adalah para siswa atau peserta didik. Pembinaan peserta didik diarahkan agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Di samping itu, pembinaan peserta didik bertujuan meningkatkan peran serta dan inisiatif mereka untuk menjadikan sekolah sebagai Wiyata Mandala, sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh yang bertentangan dengan kebudayaan nasional, serta menumbuhkan daya tangkal pada diri mereka terhadap pengaruh negatif yang datang dari luar lingkungan sekolah.

Peningkatan pembinaan peserta didik secara terarah akan meningkatkan citra positif mereka serta melahirkan karakter budaya bangsa yang unggul, patuh terhadap peraturan dan menumbuhkan kesadaran diri yang selanjutnya memperkuat disiplin sosial dan nasional. Peningkatam mutu peserta didik sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) yang  berkarakter bersandar pada kematangan akan makna dan pengamalan ajaran agama (religi),   berakhlak mulia, memiliki kecakapan berbagai kompetensi  akademik maupun non akademik dan memiliki kemantapan nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kepribadian, sehingga diharapkan mampu hidup besaing menghadapi tuntutan era revolusi industri gelombang keempat yang saat ini perkembangannya sangat pesat. Oleh karena itu peningkatan SDM melalui program pembinaan karakter ini harus diupayakan dan diprogramkan secara terstruktur, berkesinambungan dan dievaluasi secara berkala.

Salah satu unsur yang sangat penting dalam upaya tersebut adalah sekolah atau satuan pendidikan. Sekolah sebagai fungsi pendidikan berkewajiban untuk mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan kepribadian peserta didik yang bermartabat, sebagai wadah pencetak generasi muda yang akan meneruskan cita-cita perjuangan bangsa. Kecakapan kompetensi dalam penyelenggaraan pendidikan  secara komprehensif diarahkan kepada kompetensi peserta didik yang harus mampu memiliki kompetensi ‘Multiple Intelegensi’

Paling tidak ada tiga hal yang menjadi sasaran pembinaan  yang dapat dilakukan di sekolah terhadap setiap peserta didik, yaitu pembinaan karakter, pembinaan prestasi, dan pembinaan budaya. Ketiga ranah pembinaan ini harus dilandasi dengan nilai-nilai iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketiga variabel pembinaan ini kemudian dijadikan rumusan visi oleh SMA Putra Bangsa, yaitu : “Terwujudnya Insan yang Berkarakter, Berprestasi, Berbudaya, dan Berwawasan Lingkungan Berlandaskan Iman dan Takwa”.

Nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah dasar dari segala macam pembentukan dan internalisasi nilai-nilai yang akan ditanamkan kepada setiap peserta didik. Kesadaran akan nilai-nilai ini, yang kemudian kita kenal sebagai nilai-nilai religius merupakan induk dari segala bangunan karakter yang akan dibentuk. Berbicara nilai-nilai karakter atau moral tanpa dihubungkan dengan nilai-nilai ketuhanan, hanya akan menjadi angan-angan kosong yang tanpa makna.

Pembinaan karakter kepada para peserta didik harus dilakukan oleh para pendidik yang sudah terlebih dahulu memiliki karakter yang adiluhung. Para pendidik harus selalu memegang prinsip-prinsip pendidikan sebagaimana telah diajarkan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Keteladanan adalah kata kunci dalam membangun sebuah karakter peserta didik, selanjutnya adalah kesinambungan program dan pola pembentukan karakter yang terstruktur dan sistematis serta terintegrasi dalam ‘bangunan’ kurikulum yang digunakan.

Seiring dengan pembinaan karakter, juga dipersiapkan pembinaan prestasi, baik yang bersifaf akademik kekurikuleran maupun yang bersifat non akademik. Dalam sebuah sistem pendidikan yang matang, sebuah prestasi peserta didik tidak bisa disamaratakan. Hal ini perlu dipahami karena kemampuan setiap anak berbeda dan memiliki keunikan satu sama lainnya. Ibarat pepatah, kita tidak mungkin bisa memaksakan seekor ikan untuk belajar memanjat pohon, dan sebaliknya kita juga tidak bisa mengajarkan kucing untuk pandai berenang. Untuk itu diperlukan pemetaan potensi terhadap setiap peserta didik, karena sesungguhnya tidak ada orang yang bodoh maupun yang gagal. Yang ada adalah apakah semua anak memiliki kesempatan yang sama dan mampu menemukan potensi unggul yang mereka miliki.

Aspek pembinaan yang ketiga adalah aspek budaya. Seorang anak yang memiliki nilai-nilai religius dan karakter yang mulia serta prestasi yang baik, kurang sempurna manakala tidak ditopang oleh pemahaman budaya di mana mereka tinggal. Berbicara budaya tidak semata-mata berbicara aspek kesenian dan adat istiadat suatu daerah. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh, bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Budaya adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan baik (good habbitual) yang melekat dalam napas keseharian. Beberapa hal yang bisa dijadikan sebuah budaya dalam lingkup pendidikan adalah budaya membaca, budaya harmonis, budaya kerja keras dan tuntas. 

Dalam kurikulum 2013 dikenal istilah Gerakan Literasi Sekolah (GLS).Gerakan ini sesungguhnya adalah upaya untuk membangun budaya membaca (literasi) yang dirasakan sudah cukup pudar di kalangan pelajar/peserta didik. Selanjutnya juga perlu dibangun adalah budaya harmonis, agar persatuan dan kesatuan antar sesama peserta didik terjalin sehingga tidak akan pernah terdengar lagi kasus perundungan (bullying) dan tawuran antar pelajar. Budaya kerja keras dan tuntas juga menjadi hal utama untuk memerangi  plagiarisme dikalangan peserta didik. Mereka harus sudah mencoba untuk tampil percaya diri dengan mengerjakan setiap tugas secara sungguh-sungguh dan menjauhi budaya menyontek atau “numpang nama” jika tugas dilakukan secara kelompok.

Kita berharap kedepannya akan lahir generasi penerus bangsa yang akan mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia, menuju Indonesia yang berdaulat yang melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia  berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.***

Referensi :

https://kbbi.web.id/pembinaan

https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya